A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: Required parameter $perpage follows optional parameter $where

Filename: models/Artikel_Model.php

Line Number: 57

Backtrace:

File: /var/www/vhosts/alharamtravel.co.id/httpdocs/app/application/controllers/Artikel.php
Line: 10
Function: model

File: /var/www/vhosts/alharamtravel.co.id/httpdocs/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: 8192

Message: Required parameter $offset follows optional parameter $where

Filename: models/Artikel_Model.php

Line Number: 0

Backtrace:

File: /var/www/vhosts/alharamtravel.co.id/httpdocs/app/application/controllers/Artikel.php
Line: 10
Function: model

File: /var/www/vhosts/alharamtravel.co.id/httpdocs/index.php
Line: 315
Function: require_once

Sofa dan Marwa - Artikel - AL-Haram - Tours and Travel

Artikel & Berita

Sofa dan Marwa

Sofa dan Marwa

Sofa dan Marwa merupakan dua bukit kecil yang terletak di Kota Mekah. Keduanya merupakan tempat untuk melakukan ibadah Sa'i dengan cara raml atau berlari-lari kecil hingga berjalan biasa. Bukit Marwa juga dijadikan tempat untuk melakukan tahalul atau bercukur saat umrah.

Shafa dan Marwah, terletak di dalam Masjidil Haram, namun sebetulnya dahulu Shafa dan Marwah ada di luar Masjidil Haram (bukan menjadi bagian dari masjidil haram), sehingga perempuan yang sedang haid pun diperbolehkan melakukan Sa’i. Bukit Shafa, merupakan titik awal dilaksanakannya sa'i dan bukit Marwah, merupakan titik akhir dilaksanakannya sa’i.

Bukit Shafa dan Marwah adalah dua buah bukit yang terletak dekat dengan Ka'bah (Baitullah). Bukit Shafa dan Marwah ini memiliki sejarah yang sangat penting dalam dunia Islam, khususnya dalam pelaksanaan ibadah haji dan umroh. Bukit Shafa dan Marwah (yang antara keduanya) berjarak sekitar 450 meter itu, menjadi salah satu dari rukun haji dan umrah, yakni melaksanakan Sa'i.

Ibadah Sa'i adalah berjalan kaki dan berlari-lari kecil di antara kedua bukit tersebut, sebanyak tujuh kali (bolak-balik) dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya. Dan, ketika melintasi Bathnul Waadi, yaitu kawasan yang terletak di antara Bukit Shafa dan Marwah (saat ini Bathnul Waadi ditandai dengan lampu neon berwarna hijau), para jamaah pria disunahkan untuk berlari-lari kecil, sedangkan untuk jamaah wanita berjalan cepat. Ibadah Sa'i boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang haid atau nifas.

Jauh sebelum perintah ibadah haji dilaksanakan, Bukit Shafa dan Marwah telah menjadi saksi sejarah perjuangan seorang ibu dalam menyelamatkan anaknya dari kehausan puluhan abad silam.

Bukit Shafa dan Marwah tidak dapat dipisahkan dengan kisah istri Nabi Ibrahim AS, yaitu Siti Hajar dan putranya Ismail AS. Seperti diketahui, Ibrahim AS memiliki dua orang istri, yakni Siti Sarah dan Siti Hajar. Namun, ketika Siti Hajar memiliki putra (Ismail), timbul kecemburuan dalam diri Siti Sarah. Dan, ia meminta kepada Ibrahim agar antara dirinya dan Siti Hajar segera dipisahkan. Siti Sarah tidak mau hidup bersama dalam satu negeri dengan Siti Hajar. Waktu itu, Nabi Ibrahim tinggal di Hebron, Palestina.

Kemudian, turunlah wahyu kepada Nabi Ibrahim supaya Ia bersama-sama dengan anak dan istrinya (Ismail dan Hajar) pergi ke Makkah. Di waktu itu, Makkah belum didiami manusia, hanya merupakan lembah pasir dan bukit-bukit yang tandus dan tidak ada air. Di tempat inilah, keduanya ditinggalkan Ibrahim.

Siti Hajar merasa sedih saat ditinggalkan begitu saja di tempat yang tak ada orang itu. Ia lalu bertanya kepada Ibrahim:"Hendak ke manakah engkau Ibrahim?""Sampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua di tempat yang sunyi dan tandus ini?"Pertanyaan itu berulang kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah kata pun juga.Siti Hajar bertanya lagi, "Adakah ini memang perintah dari Allah?"Barulah Nabi Ibrahim menjawab, "ya."

Mendengar jawaban suaminya yang ringkas itu, Siti Hajar gembira dan hatinya pun menjadi tenteram. Ia percaya hidupnya tentu terjamin walaupun di tempat yang sunyi, tidak ada manusia dan tidak ada segala kemudahan. Sedangkan waktu itu, Nabi Ismail masih menyusu.

Kecintaan Ibrahim kepada Allah dan menuruti perintah-Nya, melebihi segalanya. Ia pun memasrahkan semuanya kepada Allah dan berdoa, ''Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.'' (QS Ibrahim ayat 37).

Siti Hajar begitu panik dan cemas melihat putranya menangis dan membutuhkan air. Dia tidak tahu harus ke mana mencari air untuk melepaskan rasa dahaga putranya. Dengan terpaksa, Siti Hajar meninggalkan Nabi Isma’il kecil dan berlari ke Bukit Shafa untuk melihat apakah ada orang yang melintas dan bisa memberikan mereka minum? Ternyata, tidak ada satu orang pun yang terlihat. Siti Hajar pun berlari kembali menuruni lembah dan pergi ke Bukit Marwah. Dari atas bukit Marwah pun, tidak ada seorang pun yang bisa menolongnya. Ibunda Nabi Isma’il ini kembali berlari ke arah Bukit Shafa, kemudian kembali ke Bukit Marwah. Ia melakukan hal itu sampau 7 kali dari Safa ke Marwah

Saat kali ketujuh (terakhir), ketika sampai di Marwah, tiba-tiba terdengar oleh Siti Hajar suara yang mengejutkan, lalu ia menuju ke arah suara itu. Alangkah terkejutnya, bahwa suara itu ialah suara air memancar dari dalam tanah dengan derasnya di bawah telapak kaki Ismail. Air itu adalah air zam-zam.

Di lokasi ini pula, Siti Hajar mendengar suara malaikat Jibril dan berkata kepadanya, "Jangan khawatir, di sini Baitullah (rumah Allah) dan anak ini (Ismail) serta ayahnya akan mendirikan rumah itu nanti. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya."

INNAS SHOFA WAL MARWATA MIN SYA’A IRILLAH. FAMAN HAJJAL BAYTA AWIK TAMARO FALA JUNAHA ALAIHI AYYAT TOWWAFA BIHIMA. WA MAN TATOWWA’A KHOIRON. FAINNALLAHA SYAKIURN ALIIM.

''Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka, barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa'i antara keduanya. Dan, barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.'' (QS Al-Baqarah (2) : 158).